Ringkasan: Nusa Penida ditargetkan menjadi pulau 100 persen energi terbarukan pada 2030, bagian dari inisiatif Bali Net Zero Emission 2045. Per pertengahan 2026, bauran energi terbarukan pulau ini masih berkisar di angka seperempat dari total kebutuhan, dengan sejumlah proyek PLTS, BESS, dan bahkan pembangkit arus laut yang tengah disiapkan PLN dan Pemprov Bali.
Apa itu Program Nusa Penida 100 Persen Energi Bersih 2030?

Program Nusa Penida 100 Persen Energi Bersih 2030 adalah inisiatif yang mendorong seluruh kebutuhan listrik di Kepulauan Nusa Penida dipenuhi dari sumber energi terbarukan pada 2030. Institute for Essential Services Reform (IESR) bersama Pemerintah Provinsi Bali mendorong Nusa Penida menjadi pulau 100 persen energi terbarukan pada 2030, sebagai bagian dari agenda besar Bali menuju net zero emission.
Mengapa Nusa Penida Dipilih Jadi Pulau Percontohan Energi Bersih?

Rencana ini bukan pilihan acak. Setidaknya ada tiga alasan pokok Nusa Penida dipilih sebagai pulau 100 persen energi terbarukan: ketersediaan potensi energi terbarukan yang melimpah, letak geografis yang terpisah dari Bali daratan, dan potensi ekonomi dari pengembangan pariwisata hijau. Target ini pertama kali disampaikan Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Energi Sumber Daya Mineral Provinsi Bali dalam pertemuan Towards Bali Net Zero Emission 2045 pada Agustus 2023.
Sektor energi jadi sorotan karena menyumbang 57 persen dari total emisi di Provinsi Bali. Ini yang membuat pemerintah daerah tak main-main menggarap pulau seluas sekitar 202 km² ini sebagai etalase transisi energi. Program serupa juga mulai bergulir di level nasional lewat berbagai program panel surya untuk desa-desa di Indonesia yang menyasar wilayah terpencil dengan pola pendanaan berbeda dari skema Nusa Penida.
Peta Jalan dan Koalisi di Balik Target 2030

Peta jalan resmi diluncurkan pada 6 Maret 2024. Nusa Penida merupakan pulau yang terletak di selatan Provinsi Bali dan termasuk salah satu upaya utama mencapai Bali NZE 2045 dengan mengalihkan penggunaan energi fosil menjadi 100 persen energi terbarukan pada 2030. Koalisi pendukungnya melibatkan banyak pihak. Mitra non-pemerintah yang tergabung dalam Koalisi Bali Emisi Nol Bersih terdiri dari IESR, WRI Indonesia, New Energy Nexus Indonesia, dan CAST Foundation.
Komitmen ini diperkuat lewat kerja sama formal. IESR bersama mitra strategis — PLN, Kadin, Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), Asosiasi Energi Angin Indonesia (AEAI), dan PT Bali Kerthi Development Fund Ventura — menandatangani nota kesepahaman untuk merealisasikan Nusa Penida sebagai pulau 100 persen energi terbarukan di ajang Indonesia International Sustainability Forum 2024. Skema kolaborasi lintas sektor semacam ini sejalan dengan pola yang juga terlihat pada MoU Pertamina dan ERIA soal panel surya lokal yang terbit pertengahan 2026.
Kondisi Energi Nusa Penida Saat Ini: Data Resmi 2024–2026

Sebelum bicara target, penting melihat kondisi eksisting. Kebutuhan energi Kepulauan Nusa Penida saat ini dipenuhi pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) dan surya (PLTS) dengan baterai — kapasitas 3,5 MW dengan sistem baterai 1,8 MWh — dari total kapasitas 17,06 MW, melayani lebih dari 21 ribu pelanggan.
Dari sisi bauran energi, progresnya bertahap. Penggunaan PLTS ini telah meningkatkan rasio energi terbarukan dalam bauran energi di Nusa Penida menjadi hampir 26 persen, dan Direktur Eksekutif IESR Fabby Tumiwa menyebut Nusa Penida telah mencapai bauran energi terbarukan sebesar 24 persen. Artinya, sebagian besar pekerjaan rumah menuju 100 persen di 2030 masih di depan.
| Metrik | Nilai | Sumber | Periode |
|---|---|---|---|
| Kapasitas total pembangkit Nusa Penida | 17,06 MW | IESR/Betahita | 2024 |
| Kapasitas PLTS + BESS awal (G20) | 3,5 MW / 1,84 MWh | ESDM | Beroperasi Okt 2022 |
| Bauran energi terbarukan | ~24–26% | IESR | 2024 |
| Jumlah pelanggan terlayani | 21.000+ | IESR/Betahita | 2024 |
| Penurunan emisi PLTS existing | ~4.190 ton CO2e/tahun | ESDM | 2024 |
| Bauran EBT nasional | 17,89% (lampaui target 16,46%) | Ditjen Ketenagalistrikan | April 2026 |
Pertumbuhan bauran EBT nasional ikut menopang momentum ini. Hingga April 2026, porsi EBT dalam bauran pembangkit listrik nasional telah mencapai 17,89 persen, melampaui target yang ditetapkan pemerintah untuk tahun 2026 sebesar 16,46 persen, dengan kapasitas terpasang pembangkit nasional mencapai 108 GW, sekitar 16,26 GW atau setara 15 persen berasal dari sumber energi baru terbarukan. Konteks nasional ini juga tercermin dalam pembahasan target 100 GW energi terbarukan nasional yang jadi acuan RUPTL terbaru.
Proyek PLTS dan BESS yang Sedang Dibangun 2025–2029

PLN sudah memetakan tahapan penambahan kapasitas hijau di Nusa Penida lewat RUPTL terbaru. Dalam RUPTL 2025-2034, PLN berencana menambah kapasitas energi baru terbarukan di Nusa Penida melalui pembangunan PLTS 4,5 MW yang terintegrasi dengan BESS pada 2026–2027, serta PLTB 10 MW dengan BESS pada 2027–2028.
Untuk jangka lebih panjang, ada rencana penyatuan jaringan tiga pulau kecil di kawasan tersebut. PLN memiliki rencana jangka panjang menghubungkan sistem tiga nusa — Nusa Penida, Nusa Lembongan, dan Nusa Ceningan — lewat kabel laut 20 kV berkapasitas 2×20 MW pada 2029. Infrastruktur pembangkit yang sudah beroperasi pun kini makin terintegrasi secara digital. Pembangkit PLTS Suana berkapasitas 3,5 MWp di Nusa Penida kini dengan smart microgrid dan BESS 1,8 MWh dapat terintegrasi dan diatur otomatis untuk menyeimbangkan pasokan energi terbarukan dan cadangan diesel secara real time.
| Proyek | Kapasitas | Target Operasi | Sumber |
|---|---|---|---|
| PLTS + BESS tahap lanjutan | 4,5 MW | 2026–2027 | ITPLN/RuangEnergi |
| PLTB + BESS | 10 MW | 2027–2028 | ITPLN/RuangEnergi |
| Kabel laut interkoneksi 3 Nusa | 2×20 MW, 20 kV | 2029 | Antara News |
| PLTAL (arus laut) Selat Nusa Penida | Studi kelayakan | Tahap pre-feasibility | Antara Bali/PancarPOS |
Proyek Energi Arus Laut: Terobosan Baru 2026

Selain surya dan bayu, Bali mulai serius menjajaki potensi energi laut di sekitar Nusa Penida. Pemerintah Provinsi Bali mulai membahas potensi pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL) di Kawasan Selat Nusa Penida, dengan kajian yang dilakukan Institut Teknologi Bandung bersama Maryland University. Langkah ini sudah masuk tahap sosialisasi resmi. Pemerintah Provinsi Bali menggelar Sosialisasi Pre-Feasibility Study Proyek Percontohan Energi Laut Terbarukan di Nusa Penida pada 30 Juni 2026, sebagai bagian dari implementasi Peraturan Gubernur Bali Nomor 45 Tahun 2019 tentang Bali Energi Bersih dan visi Bali Mandiri Energi.
Pernyataan Terbaru Gubernur Bali di Indonesia Solar Summit 2026

Komitmen ini kembali ditegaskan di panggung nasional. Gubernur Bali Wayan Koster menyatakan bahwa salah satu program strategis yang menonjol adalah menjadikan Pulau Nusa Penida sebagai percontohan Green Island dengan target 100 persen energi terbarukan pada 2030, sekaligus mendorong seluruh mobilitas di kawasan tersebut menggunakan kendaraan listrik berbasis baterai dalam pembukaan Indonesia Solar Summit 2026 pada 14 Juli 2026. Ambisi ini beririsan dengan agenda transisi menuju ekonomi hijau yang tengah didorong di berbagai daerah lain di Indonesia.
Peran PLTS Atap dan Komunitas dalam Percepatan Target

Salah satu kunci mempercepat target bukan hanya pembangkit skala utilitas, tapi juga partisipasi rumah tangga dan komunitas. Selain mengoptimalkan PLTS skala utilitas, penggunaan PLTS atap dapat didorong karena semakin tinggi penetrasi PLTS atap di Nusa Penida, semakin rendah biaya produksi listrik pulau tersebut. Pola ini konsisten dengan temuan di daerah lain, di mana krisis pasokan justru mempercepat adopsi PLTS atap — seperti terlihat dari blackout di Sumatra yang membuktikan pentingnya PLTS atap sebagai solusi ketahanan energi lokal.
Model kolaborasi komunitas juga sudah terbukti di berbagai wilayah lain, memperkuat argumen bahwa target Nusa Penida bukan sekadar proyek top-down. Contohnya bisa dilihat dari kolaborasi komunitas untuk memperluas akses energi surya yang telah berjalan di sejumlah desa.
FAQ — Nusa Penida 100 Persen Energi Bersih 2030
Apa itu target Nusa Penida 100 persen energi bersih 2030?
Target ini adalah komitmen menjadikan seluruh kebutuhan listrik Nusa Penida terpenuhi dari energi terbarukan pada 2030, bagian dari inisiatif Bali Net Zero Emission 2045 yang digagas Pemprov Bali bersama IESR sejak Agustus 2023.
Berapa persen bauran energi terbarukan Nusa Penida saat ini?
Per data IESR 2024, bauran energi terbarukan Nusa Penida berada di kisaran 24–26 persen, ditopang PLTS hybrid berkapasitas 3,5 MW dengan BESS yang sudah beroperasi sejak Oktober 2022.
Proyek apa saja yang sedang dibangun untuk mengejar target 2030?
PLN tengah membangun PLTS+BESS 4,5 MW (2026-2027), PLTB+BESS 10 MW (2027-2028), interkoneksi kabel laut tiga Nusa 2×20 MW (target 2029), serta studi kelayakan pembangkit arus laut (PLTAL) di Selat Nusa Penida yang mulai disosialisasikan Juni 2026.
Ditinjau berdasarkan data resmi IESR, Kementerian ESDM, PLN UID Bali, dan pemberitaan Antara News,