Panel Surya Perovskite: Inovasi Masa Depan Energi Terbarukan

Panel Surya Perovskite: Inovasi Masa Depan Energi Terbarukan

solarhigh.org, 12 MEI 2025

Penulis: Riyan Wicaksono

Editor: Muhammad Kadafi

Tim Redaksi: Diplomasi Internasional Perusahaan Victory88

 

 

Dalam upaya global untuk mengatasi krisis energi dan perubahan iklim, teknologi panel surya telah menjadi salah satu solusi utama untuk menghasilkan energi bersih dan terbarukan. Selama beberapa dekade, panel surya berbasis silikon kristal (c-Si) mendominasi pasar fotovoltaik dengan pangsa pasar sekitar 90%. Namun, kebutuhan akan teknologi yang lebih efisien, murah, dan fleksibel mendorong para ilmuwan untuk mencari alternatif baru. Salah satu inovasi yang paling menjanjikan adalah panel surya perovskite, yang telah menarik perhatian dunia sejak penelitian awalnya pada 2009. Material perovskite menawarkan efisiensi tinggi, biaya produksi rendah, dan fleksibilitas aplikasi yang luas, menjadikannya kandidat kuat untuk menggantikan atau melengkapi teknologi silikon konvensional.

Artikel ini akan mengupas tuntas tentang panel surya perovskite, mencakup sejarah penemuan, struktur dan cara kerja, keunggulan, tantangan, perkembangan terkini, dan potensi penerapannya di Indonesia. Informasi yang disajikan bersumber dari referensi terpercaya, termasuk jurnal ilmiah, situs resmi pemerintah, dan laporan penelitian, untuk memastikan akurasi dan keandalan.

Apa Itu Perovskite?

    Sel Surya Jenis Perovskite, Masa Depan Teknologi Fotovoltaik    

Perovskite merujuk pada kelompok material yang memiliki struktur kristal ABX3, dinamakan berdasarkan mineral kalsium titanium oksida (CaTiO3) yang pertama kali ditemukan oleh ahli mineral Jerman Gustav Rose pada 1839 di Pegunungan Ural, Rusia. Nama “perovskite” diberikan sebagai penghormatan kepada mineralog Rusia Lev Perovski. Dalam konteks panel surya, perovskite yang digunakan adalah senyawa hibrida organik-anorganik, biasanya berbasis timbal atau timah halida, seperti methylammonium lead trihalide (CH3NH3PbX3) atau formamidinium lead trihalide (H2NCHNH2PbX3), di mana X adalah ion halogen seperti iodida, bromida, atau klorida.

Keformulan ABX3 terdiri dari:

  • A: Kation organik (misalnya methylammonium atau formamidinium).

  • B: Kation anorganik (biasanya timbal atau timah).

  • X: Anion halogen (iodida, bromida, atau klorida).

Struktur kristal perovskite memiliki sifat optoelektrik yang luar biasa, seperti koefisien penyerapan cahaya yang tinggi, jarak difusi muatan yang panjang, dan energi pita (bandgap) yang dapat disesuaikan, menjadikannya ideal untuk aplikasi fotovoltaik.

Sejarah dan Perkembangan Panel Surya Perovskite

    Perovskite: Menerangi Masa Depan Energi Hijau      

Penelitian panel surya perovskite dimulai pada 2009, ketika para ilmuwan di Universitas New South Wales (UNSW), Australia, di bawah pimpinan Anita Ho-Baillie, melaporkan efisiensi konversi energi sebesar 3,8% pada sel surya perovskite skala laboratorium. Sejak itu, efisiensi perovskite meningkat pesat:

  • 2012: Efisiensi mencapai lebih dari 10% dengan pengembangan film tipis perovskite menggunakan teknik deposisi sederhana.

  • 2018: Universitas Oxford mencatat efisiensi 25–28% pada sel perovskite tunggal.

  • 2021: Efisiensi sel tandem perovskite-silikon mencapai 29,8%, melampaui rekor efisiensi sel silikon tunggal (27%).

  • 2023: Sel tandem perovskite-silikon mencapai efisiensi 33,2%, seperti dilaporkan oleh @esmaugura di X, menjadikannya efisiensi tertinggi untuk sel tandem dua sambungan (2J).

  • 2025: Penelitian terbaru dari India melaporkan efisiensi sel perovskite 2D-3D sebesar 31,16%, dan Nature Nanotechnology mencatat kemajuan dalam sel tandem perovskite dengan efisiensi skalabel melalui regulasi molekuler.

Kecepatan peningkatan efisiensi ini menjadikan perovskite teknologi fotovoltaik yang berkembang paling cepat dalam sejarah, jauh melampaui kemajuan teknologi silikon yang memakan waktu puluhan tahun.

Cara Kerja Panel Surya Perovskite

    Sel surya perovskite merupakan sel surya generasi ketiga      

Panel surya perovskite bekerja berdasarkan efek fotovoltaik, di mana cahaya matahari mengeksitasi elektron dalam material semikonduktor, menghasilkan arus listrik. Struktur sel surya perovskite biasanya terdiri dari beberapa lapisan:

  1. Lapisan Penyerap (Active Layer): Lapisan perovskite, seperti methylammonium lead triiodide (MAPbI3), menyerap cahaya matahari dan menghasilkan pasangan elektron-hole.

  2. Lapisan Pengangkut Elektron (ETL): Mengumpulkan elektron yang tereksitasi dan mencegah rekombinasi dengan hole.

  3. Lapisan Pengangkut Hole (HTL): Mengangkut hole ke elektroda.

  4. Elektroda: Mengumpulkan arus listrik untuk dialirkan ke rangkaian eksternal.

Perovskite memiliki energi bandgap ideal (1,48–2,3 eV), memungkinkan penyerapan spektrum cahaya matahari yang luas. Lapisan perovskite yang sangat tipis (sekitar 500 nm) mampu menyerap cahaya secara efisien, berbeda dengan silikon yang memerlukan lapisan tebal (hingga 200 µm). Selain itu, perovskite dapat diatur untuk menyerap panjang gelombang tertentu, menjadikannya cocok untuk sel tandem dengan silikon, di mana perovskite menyerap cahaya biru energi tinggi, sementara silikon menyerap cahaya merah energi rendah.

Keunggulan Panel Surya Perovskite

Panel surya perovskite memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan teknologi silikon konvensional:

  1. Efisiensi Tinggi: Efisiensi sel perovskite telah mencapai 25,7% untuk sel tunggal dan 34,6% untuk sel tandem perovskite-silikon di laboratorium, melampaui silikon tunggal (27%).

  2. Biaya Produksi Rendah: Proses pembuatan perovskite menggunakan teknik sederhana seperti pencetakan (inkjet printing) atau pelapisan putar (spin-coating) pada suhu rendah (<200°C), dib bandingkan dengan silikon yang memerlukan pemanasan hingga 800°C.

  3. Fleksibilitas dan Ringan: Lapisan perovskite sangat tipis (200 kali lebih tipis dari silikon), memungkinkan pembuatan panel yang fleksibel, ringan, dan semi-transparan, cocok untuk aplikasi seperti atap rumah, kendaraan listrik, atau perangkat portabel.

  4. Bahan Melimpah: Material perovskite, seperti timbal dan halogen, lebih mudah diakses dibandingkan silikon murni, mengurangi ketergantungan pada sumber daya langka.

  5. Potensi Tandem: Kombinasi perovskite dan silikon dalam sel tandem meningkatkan efisiensi dengan memanfaatkan spektrum cahaya yang lebih luas.

  6. Daur Ulang Inovatif: Penelitian dari MIT dan Universitas Padjadjaran menunjukkan bahwa timbal dari aki bekas dapat diubah menjadi PbI2 untuk membuat lapisan perovskite, mengurangi limbah dan biaya produksi.

Tantangan dan Hambatan

Meskipun menjanjikan, panel surya perovskite menghadapi beberapa tantangan yang menghambat komersialisasi skala besar:

  1. Stabilitas dan Daya Tahan: Perovskite rentan terhadap degradasi akibat kelembapan, panas, dan paparan cahaya matahari. Sel perovskite awal hanya bertahan beberapa jam, meskipun formulasi terbaru telah meningkatkan umur pakai hingga beberapa tahun, masih jauh di bawah silikon yang tahan hingga 25 tahun.

  2. Toksisitas Timbal: Banyak sel perovskite menggunakan timbal (Pb), yang berpotensi mencemari lingkungan jika tidak dienkapsulasi dengan baik. Penelitian sedang dilakukan untuk mengganti timbal dengan timah atau material lain, tetapi performanya masih di bawah timbal.

  3. Skalabilitas: Efisiensi tinggi (misalnya 34,6%) hanya dicapai pada sel berukuran kecil (0,1 cm²). Meningkatkan efisiensi pada panel berukuran besar tetap menjadi tantangan.

  4. Biaya Elektroda: Elektroda berbasis emas yang umum digunakan dalam sel perovskite meningkatkan biaya produksi. Alternatif seperti karbon sedang dieksplorasi untuk menekan biaya.

  5. Cacat Kristal: Cacat pada struktur kristal perovskite dapat mengurangi efisiensi. Teknik pasivasi, seperti penggunaan Thiomorpholine hydroiodide (SMORI) oleh Tokyo Chemical Industry, sedang dikembangkan untuk mengatasi masalah ini.

Perkembangan Terkini

Sejumlah kemajuan signifikan telah dicapai dalam pengembangan panel surya perovskite:

  • Komersialisasi Awal: Saule Technologies, perusahaan asal Polandia, menjadi pelopor dalam memasarkan sel perovskite pada 2014 menggunakan teknik pencetakan inkjet. Pada 2016, mereka menghasilkan sel untuk pengisi daya ponsel, dan pada 2021, panel perovskite digunakan untuk melapisi bangunan di Lublin, Polandia, menandai penggunaan komersial pertama.

  • Sel Tandem Perovskite-Silikon: Penelitian di Universitas Oxford, MIT, dan Australian National University menunjukkan bahwa sel tandem mencapai efisiensi hingga 34,6%, mendekati batas teoritis untuk sel silikon (33%).

  • Inovasi di Indonesia: Mahasiswa Universitas Padjadjaran telah mengembangkan panel surya perovskite dari timbal aki bekas, menghasilkan PbI2 dengan kemurnian 88%. Satu aki bekas dapat menghasilkan 1,58 kg PbI2, cukup untuk panel surya yang memasok listrik untuk 30 rumah.

  • Pasivasi dan Stabilitas: Penelitian di Universitas Washington dan Georgia Tech menggunakan teknik pasivasi untuk mengurangi cacat kristal dan meningkatkan stabilitas sel perovskite, didukung oleh Dana Kantor Teknologi Energi Surya AS.

Potensi Penerapan di Indonesia

Indonesia, sebagai negara tropis dengan potensi energi surya hingga 207,8 GW, memiliki peluang besar untuk mengadopsi teknologi perovskite. Namun, hingga 2024, pemanfaatan energi surya di Indonesia baru mencapai 0,15 GW, menunjukkan potensi yang masih sangat besar. Beberapa alasan mengapa perovskite cocok untuk Indonesia:

  1. Efisiensi Tinggi di Iklim Tropis: Perovskite dapat menyerap spektrum cahaya yang luas, cocok untuk kondisi sinar matahari yang intens di Indonesia.

  2. Biaya Rendah: Proses produksi perovskite yang sederhana dan penggunaan bahan daur ulang seperti aki bekas dapat menekan biaya, mendukung akses energi di daerah terpencil.

  3. Fleksibilitas Aplikasi: Panel perovskite yang ringan dan fleksibel dapat dipasang di atap rumah, kendaraan, atau infrastruktur sementara di pulau-pulau kecil.

  4. Dukungan Pemerintah: Kementerian ESDM mendorong penggunaan energi hijau melalui teknologi bersih, dengan perovskite sebagai salah satu solusi potensial.

Namun, tantangan seperti stabilitas di iklim lembap tropis dan regulasi pengelolaan limbah timbal perlu diatasi. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan industri, seperti yang dilakukan Universitas Padjadjaran, dapat mempercepat adopsi teknologi ini.

Masa Depan Panel Surya Perovskite

Para ahli memprediksi bahwa panel surya perovskite akan mulai dikomersialkan secara luas pada pertengahan 2020-an, dengan perusahaan seperti Saule Technologies menargetkan produk tandem perovskite-silikon dengan garansi 25 tahun. Beberapa area pengembangan masa depan meliputi:

  • Stabilitas Jangka Panjang: Penelitian berfokus pada enkapsulasi dan material alternatif untuk meningkatkan umur pakai hingga mendekati silikon.

  • Skalabilitas Produksi: Pengembangan teknik pencetakan skala besar, seperti roll-to-roll printing, untuk menghasilkan panel berukuran besar dengan efisiensi tinggi.

  • Aplikasi Inovatif: Perovskite transparan dapat digunakan sebagai jendela atau fasad bangunan, seperti yang diumumkan oleh Panasonic.

  • Pengurangan Toksisitas: Material berbasis timah atau bebas timbal sedang dieksplorasi untuk mengurangi dampak lingkungan.

Kesimpulan

Panel surya perovskite mewakili terobosan besar dalam teknologi energi terbarukan, dengan efisiensi yang kini melampaui silikon, biaya produksi yang rendah, dan fleksibilitas aplikasi yang luas. Keunggulan seperti lapisan tipis, kemampuan daur ulang dari limbah aki, dan potensi sel tandem menjadikannya kandidat kuat untuk masa depan energi surya. Namun, tantangan seperti stabilitas, toksisitas timbal, dan skalabilitas masih perlu diatasi untuk komersialisasi skala besar. Di Indonesia, perovskite memiliki potensi besar untuk mendukung transisi energi bersih, terutama di daerah tropis dengan sinar matahari melimpah. Dengan dukungan penelitian dan kebijakan yang tepat, perovskite dapat menjadi “cahaya baru” dalam upaya global menuju energi hijau yang berkelanjutan.

Sumber:

BACA JUGA: Panduan Lengkap Travelling ke Republik Ceko untuk Wisatawan Indonesia

BACA JUGA : Lingkungan, Sumber Daya Alam, dan Penduduk Republik Ceko: Analisis Mendalam

BACA JUGA : Seni dan Tradisi Negara Republik Ceko: Warisan Budaya yang Kaya dan Beragam